Rabu, 20 Mei 2009

Parsadaan Marga Pulungan -mandailing


  1. Pelaksanaan Upacara adat pada setiap etnis memiliki ciri khas tersendiri.
    Salah satu etnis yang terdapat di Sumatera Utara ad
    alah etnis Angkola –
    Mandailing. Upacara besar dalam etnis Angkola –Mandailing
    terdiri dari :
    Siluluton (duka cita),Siriaon (suka cita). Upacara Perkawinan adalah
    Horja
    (pesta) adat suka cita. Prosesi Upacara Perkawinan Angkola Mandailing
    dimulai dari musyawarah adat Makkobar/Makkatai, yakni berbicara dalam

    tutur sapa yang sangat khusus dan unik, antara barisan yang terdapat dalam
    Dalihan Na Tolu. Setiap anggota berbalas tutur yang teratur seperti berbalas
    pantun.
    Ada empat ragam bahasa etnik Angkola Mandailing, yakni :

    1. Bahasa Sehari hari
    2. Bahasa pantun
    3. Bahasa ratapan (andung)
    4. Bahasa Adat

Urutan Pembicara dalam acara adat :
1. Juru Bicara yang punya Hajat Pesta (Suhut) Pangatak Pengetong (Penyusun Acara /Protokoler)
2. Suhut (yang punya Hajat Pesta)
3. Anak Boru Suhut (Menantu yang punya Hajat)

4. Pisang Raut (ipar dari Anak Boru)
5. Paralok alok (peserta musyawarah yang turut hadir)
6. Hatobangan ( Raja adat di Kampung tersebut/ Noblemen of Village)
7. Raja Torbing Balok ( Raja adapt dari kampong sebelah)
8. Raja Panusunan Bulung (Raja di Raja Adat/ Pimpinan Sidang)

urutan pembicara dalam acara adat perkawinan :

1.Juru Bicara Suhut : Ucapan Terimakasih dan permohonan mengadakan sidang pesta adat ” Diharoro ni anak ni raja, Songoni anak nin namora, Nadung martoru abara,Namar nayang ni lakka “. 2.Suhut : Permohonan agar diadakan pesta ” Tankkas ma hami olat ni niat, anak niraja dohot namora palalulon, Sian harani dison hami pasahaton, Songoni dohot mayorahon “. 3.Anak Boru : Mengiring Mora (Pihak Mertua) ” Manatap ma tu toru, tu siamun tu siambirang, pangodoan ni ami anak boru, ulang lang lang pagusayang “. 4.Pisang Raut : Ikut Menyerahkan ” On ma pangidoan, ni pisang raut, Arion ma ari ulang lusut, Muda lewat on horbo lusut, Sarsar ma nadung luhut “. 5.Hatobangan : Memberikan jawaban atas permintaan suhut, Anak Boru/ Pisang Raut ” Melpas ma tu namambalosi, Sangape namangalusi, Manjawanb saro sonnari, Hata nisuhut Habolonan nakkinani “. 6.Raja Kampung : Menjawab permintaan ” Muda pola tabo ima na bornok, Sombu roha puas di lala”. 7.Raja kampung Sebelah : Menjawab permintaan ” Muda au Rajai Tobing balok sian naritti, Hujagit hutarimo andung muyuon, muda saro di naritti jolo hudokkon “. 8.Raja Panusunan Bulung : Memutuskan Sidang ” Dalan dalan tu Sidimpuan Boluson parsabolas, Madung dapot hasimpulan Tolu noli ta dokkon Horas …horas… horas “.



MANDAILING ANTARA FAKTA DAN LEGENDA.......!!



Sejarah Mandailing di Sumatera Utara tidak bisa dipisahkan dalam lembaran legenda yang sampai kini terus hidup dan berkembang. Sebab dari Mandailing inilah lahirlah manusia-manusia Mandailing yang kini hidup beranak pinak sampai ke anak cucu.

Mandailing, menurut legenda berasal dari daerah Munda di utara India. Masyarakat Munda di utara India ini terpukul oleh serangan bangsa Aryan, lalu berpindah ke Burma di mana terdapat sebuah kota purba yang dinamakan Mandalay. Setelah sekian lama di sana mereka sekali lagi diusir ke luar oleh kaum asli Burma, lalu berpindah menyeberangi Selat Malaka hingga ke Sumatera. Menurut informasi yang sampai kepada penulis, masuknya bangsa Munda tersebut ke Sumatera melalui Pantai Barat Sumatera yaitu Pelabuhan Barus. Beberapa abad sebelum tahun Masehi, Barus sudah banyak didatangi berbagai bangsa, dan menjadi pelabuhan yang sangat terkenal karena kapur barusnya. Di Barus pula pada masa lalu pernah ditemui koloni etnis Tamil yang juga berasal dari India.

Menurut cerita yang berkembang pada abad keenam, orang-orang Munda ini telah berjaya mendirikan kerajaan bernama Poli di Pantai Timur Sumatera. Kerajaan ini juga dikenal sebagai Portibi atau Puni. Tetapi Kerajaan Munda Holing ini hanya bertahan sampai abad XVI. Pada sekitar tahun 1030 an kerajaan Hindia Selatan di bawah pimpiunan Maharaja Rajendera Chola menaklukan Portibi (Munda). Lalu masyarakat Munda berpindah ke Pidoli berhampiran Penyabungan yang ada sekarang ini. Di Pidoli ini mereka mendirikan sebuah kerajaan yang dikenal sebagai Mandela Holing. Tetapi dari informasi lain ada yang menyebut asal nama Mandailing ialah bermula dari perkataan Mandalay, yaitu nama sebuah kota yang besar di Burma. Sebab di Burma utara terdapat sebuah kota kebudayaan atau pusat peradaban dan pemerintah yang bernama Mundalay yang hampir sama dengan Mandailing di Sumatera Utara.

Dalam perkembangan sejarah bahwa kerajaan Mandala Holing ini berjaya hingga abad XIII, sebab mereka diserang oleh kerajaan Hindu Singosari dari Tanah Jawa di bawah pimpinan Raja Kertanegara yang telah melancarkan expedisi Pemelayuan pada 1275. Namun, dalam waktu singkat orang-orang Mandala Holing ini telah berjaya mendirikan kerajaan mereka dan menjadi termashur. Kerajaan Hindu Majapahit pada masa lalu merasa tergugat dan cemburu karena kerajaan Mandala Holing menjadi kuat. Pada tahun 1365 kerajaan Hindu Majapahit menyerang Sumatera sekali lagi. Di dalam Sumpah Palapa Gajah Mada yang berbentuk syair Purba Jawa yang bertajuk Negarakertagama ditulis oleh Mpu Prapanca dan dijumpai di Puri Cakranegara Lombok terdapat pernyataan Mandailing itu sebuah negeri besar yang telah diserang. Ini menunjukkan bahwa kerajaan Mandailing telah lama ada sebelum nama Batak tercatat di dalam peradaban sejarah.

Di dalam Sumpah Palapa disebutkan pasukan Majapahit mengekspansi ke Melayu di Sumatera merata sejak Jambi, Palembang, Muara Tebo, Darmasraya, Minangkabau, Siak, Kampar, Panai, Pulau Kampar, Haru dan Mandailing. Keberadaan Mandailing telah terlukis indah pada syair ke 13 Negarakertagamanya Prapanca yang agung. Pada masa itu Mandailing mempunyai masyarakat yang homogen yaitu masyarakat yang tumbuh dan terhimpun dalam suatu ketatanegaraan kerajaan dengan kebudayaannya yang sudah tinggi pada zamannya. Tanah Mandailing telah terkenal di nusantara ini sekitar tahun 1287 Caka (1365 M). Dalam catatan sejarah atas serangan Rajaendra Cola dari India pada 1023 M ke kerajaan Panai. Kerajaan Panai berlokasi di bagian hulu sungai Barumun atau di sepanjang aliran sungai Batang Pane mulai dari Binanga (pertemuan sungai Barumun dengan sungai Batang Pane) termasuk daerah Portibi di Gunung Tua hingga sampai ke lembah pegunungan Sibual-buali di daerah Sipirok. Ini ditandai dengan adanya anggota masyarakat yang bermarga pane di daerah Sipirok.

Dari informasi, nama Mandailing ada yang menduga berasal dari perkataan Mande Hilang dalam bahasa Minangkabau, perkataan tersebut berarti ibu yang hilang. Ada juga menyebutkan Mandailing berasal dari perkataan Munda hilang yang berarti Munda yang mengungsi. Bangsa Munda di India pada masa yang silam melakukan pengungsian karena mereka terdesak oleh bangsa Aria. Konon sebelum kedatangan bangsa Aria, bangsa Munda menduduki India Utara. Karena desakan bangsa Aria, maka bangsa Munda menyingkir ke Selatan. Pendudukan bangsa Aria itu terjadi di sekitar tahun 1500 sebelum Masehi. Bangsa Munda pindah ke luar dari daerah India menuju Assam dan Asia Tenggara setelah terjadi pendudukan lembah sungai Gangga oleh bangsa Aria dalam keseluruhannya.

Ketika terjadi perpindahan bangsa Munda dari India Utara ke Asia Tenggara oleh karena terdesak dari bangsa Aria, diduga ada sebagian yang masuk ke Sumatera melalui Barus.Mandailing memang sebuah kerajaan sehingga pada waktu dulu kerajaan ini disegani di seluruh nusantara bahkan dunia. Konon, kerajaan Mandailing memiliki kekuatan gaib untuk menumpas lawan lawannya. Namun pada saat yang kurang menguntungkan Datu Besar (guru besarnya) meninggal dunia sehingga kekuatan Mandailing lemah dan mereka kocar-kacir menyelamatkan diri ke wilayah lainnya. Dalam penelusuran penulis di daerah tersebut adanya sebutan Mandala pada beberapa buah pemukiman moyang marga Rangkuti dan Parinduri yakni Datu Janggut Marpayung Aji bernama Mandala Sena. Untuk menguasai daerah kerajaan tersebut pada abad XIV sebagaimana yang disebut dengan nama Mandala Hilang (Mandailing) di dalam buku Negarakartagama. Dalam penelusuran itu terdapat candi-candi dibangun sejak abad X dan XI. Bahkan sebagian candi-candi itu pembangunannya dimulai jauh seelum abad ke X.

Oleh sebab itulah besar kemungkinan kerajaan Mandala Holing yang meninggalkan daerah ini kemudian hari berubah nama menjadi nama Mandahilang (Mandailing seperti terdapat dalam buku Negarakertagama dengan nama Mandailing). Mandailing adalah suatu wilayah yang terletak di Mandailing Natal di tengah pulau Sumatera sepanjang jalan raja lintas Sumatra. Mandailing terbagi dua yaitu: Mandailing kecil, ulu dan Pakantan dan dua Mandailing Besar dan Batang Natal. Kemudian Mandailing dibagi dua walaupun adatnya sama yaitu Mandailing Godang dan Mandailing Julu. Mandailing Godang didominasi oleh marga Nasution yang wilayahnya mulai dari Sihepeng di sebelah utara Penyabungan sampai Maga di sebelah selatan serta daerah Batang Natal sampai Muarasoma dan Muara Parlampungan di sebelah barat. Sedangkan daerah Mandailing Julu didominasi oleh marga Lubis yang wilayahnya mulai dari Laru dan Tambangan di sebelah utara Kotanopan sampai Pakantan dan Hutanagidang di sebelah selatan.

Dalam penelusuran penulis, marga Mandailing banyak. Seperti tersebut di bawah ini : Babiat di Tambiski, Napagadunglaut. Baumi di Marancar Dabuar di Nagasaribu, Portibi Dalimunthe di Muaratais, Sigalangan, Sihulambu, Lombu Tayas, Gunung Tinggi, Janjilobi. Dasopang di Silangge, Pangirkiran Daulae di Pintu Padang, Singkuang, Sipiongot, Siunggam, ringgonan, Hasahatan, Hutanopan (Padang Lawas), Sosa Julu, Sosa Jae, Aeknabara, Binabo. Dongoran di Sihulambu, Tapus (Padang Lawas), Silangge, Sipiongot, Mandalasena, Tambiski, Napagadunglaut, Halongonan. Harahap di Hutaimbaru, Sabungan, Simapilapil, Siharangkarang, Losungbatu, Hanopan, Batunadua, Pijorkoling, Napagadunglaut, Pangirkiran, Hasang, Parurean, Halongonan, Hajoran, Purbasinomba, Gunungtua (Padang Lawas), Pamuntaran, Siunggam, Nagasaribu, Batangonang, Gadu, Tabusira, Sayurmatinggi (Pasang Lawas), Padang dolok, sosopan, Simanosor, Padang Hanopan, Hasahatan, Sosa Jae, Siapas, Ujungbatu, Aeknabara, Portibi, Unterudang, Binanga, Huristak, Simangambat (Padang Lawas), Sidangkal, Pargarutan, Panyanggar, Simatontong, Sabatarutung, Pasar Matanggor, Sababalik. Hasibuan di Sihulambu, Batugana, Gunungtua (Padang Lawas), Paringgonan, Hasahatan, Janjilobi, Hutanopan (Padang Lawas), Sosa Julu, Sosa Jae, Mondang, Pinarik, Siapas, Aeknabara, Unterudang, Binanga, Huristak, Simangambat (Padang Lawas), Ujungbatu, Barumun.

Hutasuhut di Lobu Layan, Sipirok
Lubis di Maga, Tambangan, Kotanopan, Manambin, Tamiang, Ulu, Pakantan Dolok, Pakantan Lombang, Hutanopan (Padang Lawas), Sosa Jae, Mondang, Pinarik, Aeknabara. Nasution di Panyabungan Tonga, Panyabungan Julu, Gunungtua (Mandailing), Pidoli Dolok, Pidoli Lombang, Hutasiantar, Gunung Baringin, Lingga Bayu, Muara Parlampungan, Aeknan gali, Sosopan, Paringgonan, Hasahatan, Janjilobi, Hutanopan (Padang Lawas), Sosa Jae, Mondang, Pinarik, Siapas, Aeknabara, Unterudang Simangambat (Padang Lawas). Pane di Tapus (Padang Lawas), Napagadunglaut, Arse, gunung Manaon, Pangurabaan dan Lancat. Pasaribu di Tolang (Padang Lawas), Sosa Julu.Payung di Simundol Pohan di Gunung Tinggi, Simundol, Sipiongot, Nagasaribu, Huristak. Pulungan di Batang Toru, Sayurmatinggi (Batang Angkola), Hutanopan (Padang Lawas), Huta Bargot (Mandailing), Sumuran dan Silaia di Kecamatan Sipirok. Rambe di Tapus (Padang Lawas), Gunung Tinggi, Simundol, Sipiongot, Mandalasena. Rangkuti di Runding, Aekmarian.Ritonga di Sihulambu, Lobu Tayas, Tolang (Padang Lawas), Tapus (Padang Lawas), Gunung Tinggi, Sipiongot, Mandalasena, Tambiski. Sagala di Sihulambu

Simbolon di Sipiongot, Mandalasenan. Siregar di Baringin, Parausorat, Bungabondar, Napagadunglaut, Hajoran, Purbasinomba, Batugana, Pamuntaran, Siunggam, Nagasaribu, Batang Onang, Sayurmatinggi (Padang Lawas), Gunungtua (Padang Lawas), Pangkal Dolok, Sosopan, Janjilobi, Hutanopan (Padang Lawas), Sosa Jae, Portibi, Unterudang, Binanga, Marancar, Tambiski, Mandalasena, Janji Manaon, Simandiangin, Aek Bayur, Hopong. Tanjung di Lingga Bayu, Silangge, Mandalasena, Napagadunglaut.

Keberadaan Mandailing bukan datang dengan sendirinya tetapi mengalami suatu proses. Selepas Pidoli dibumi hangus, bangsa Munda yang bercampuraduk dengan penduduk asli telah membentuk marga Pulungan dan mendirikan kerajaan di Huta Bargot. Kerajaan ini telah dikalahkan oleh Sutan Diaru dari marga Nasution yang berasal dari Pagaruyung. Sutan Diaru mendirikan kerajaan di Panyabungan dan memerintah seluruh Mandailing Godang. Oleh karena Sutan Diaru itu adalah seorang putera yang ditemui di bawah pokok beringin di tepi Aek Batang Gadis ibunya pula tidak diketahui maka kerajaan tersebut dikenal sebagai kerajaan Mande Nan Hilang Mandehilang atau ibu yang hilang dan akhirnya sebutan tersebut menjadi Mandailing mengikut loghat orang minang.

Dalam syair Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca tidak bisa dipisahkan dalam menyelusuri Mandailing sebab dalam syair ke-13 Kakawin terdapat kata kampe Harw athawe Mandailing i Tumihang Parlak mwang i Barat. Dengan adanya kata Mandailing merupakan bukti sejarah bahwa Mandailing menjadi perhitungan di nusantara ini. Sebab keberadaan Mandailing memang dijuluki sebagai wilayah yang kuat dan solid dalam peradabannya. Sebab nama Mandailing memang tidak ada duanya di Indonesia ini, unik dan misteri lagi. Dalam abad ke-14 sekitar tahun 1365 orang mandailing memiliki peradaban yang maju sehingga menjadi perhitungan bagi raja-raja Jawa. Sebelum lahirnya kerajaan Majapahit Mandailing telah ada walau sebuah kampung yang dihuni oleh beberapa orang dengan rajanya. Sehingga lama kelamaan kerajaan ini menjadi besar dan lahirlah kerajaan Majapahit yang memang besar dan kuat. Kerajaan Mandailing pada waktu itu memang besar di akibatkan oleh mas. Mas merupakan penghasilan penduduk sebab di wilayah ini memang kaya akan hasil tambangnya. Sehingga masyarakatnya makmur dan mampu menghidupkan dirinya sendiri. Tanpa harus expansi ke wilayah lain. Sehingga pada waktu itu Mandailing dikenal sebutan tano sere yang artinya tanah emas dalam cerita-cerita lama.

Daerah Mandailing Julu (kini disebut Kotanopan) sampai kini ditemukan tepat yang bernama garabak ni agom seperti di sekitar Huta na Godang. Nama itu diberikan kepada bekas tempat-tempat orang agam (Minangkabau) menambang mas di masa dahulu di Mandailing Julu, yaitu dekat Muarasipongi. Tano sere sebagai bukti Mandailing kaya dengan mas sehingga kerajaan Mandailing tetap jaya sebab tidak memerlukan bantuan dari wilayah lain untuk membangun kerajaannya. Nama Mandailing sebenarnya sudah disebut dalam kesusastraan Toba Tua yang klasik yang disebut di dalam Tonggo Tonggo Si Boru Deak Parajar yang terdiri dari 10 pasal. Di dalam kesusastraan tersebut tertulis Mandailing. Konon menurut cerita dalam buku Sutan Kumala Bulan yang ditulis oleh H. Mhd. Said menjelaskan sebagai berikut : Diperhatikan dari adanya bangunan bersejarah terdiri dari biaro-biaro di Padang Lawa dapat diyakini pertumbuhan masyarakat yang berbudaya di wilayah itu masih berabad-abad lebih tua dari zaman Prapanca. Serangan Rajendra Gola dari India di tahun 1023 – 24 M, antara lain ke Panai misalnya, menunjukkan perlunya suatu ekspedisi militer untuk menaklukkan kerajaan tersebut. Panai diperkirakan lokasinya di hulu sungai Barumun, ditandai dengan adanya nama Batang Pane dan anggota masyarakat yang bermarga Pane di Angkola Sipirok.

Bila menyelusuri jejak kerajaan Mandailing tidak bisa lepas dari kerajaan yang menguasai daerah mulai dari Portibi di Gunung Tua Padang Lawas sampai ke daerah Pidoli di Mandailing. Sebab semua pusat kerajaan ini terletak di Portibi Gunung Tua dengan adanya bukti-bukti candi-candi purba. Dengan serangan pasukan Majapahit karena melihat kerajaan Mandailing menjadi besar kemudian pusat pemerintahan kerajaan tersebut dipindahkan ke Piu di daerah Mandailing (dekat kota Panyabungan yang sekaang). Ini dibuktikan pada masa silam di daerah Pidoli ini terdapat juga candi-candi purba. Namun demikian bukti ini (candi-candi ini) keburu dihancurkan oleh pasukan Islam di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol ratusan tahun yang lalu. namun reruntuhan candi-candi masih membekas di beberapa tempat seperti di Saba Biaro Pidoli dan Simangambat yakni Pidoli terletak di Panyabungan dan Simangambat di Siabu. Dalam sebuah surat uang dikenal Surat Tumbago Holing berdasarkan informasi masyarakat memang ada tetapi belum diketahui orang. Menurut orang tua di daerah Mandailing bahwa surat Tumbago Hilang ialah surat perjanjian yang dibuat oleh seorang raja di Mandailing dengan Belanda. Bila surat itu ada berarti baru lahir abad ke XIX. Rasanya terlalu mudah kejadiannya. Namun ada yang menafsirkan Surat Tumbago Holing ini ialah surat Emas dari bangsa Keling suatu surat yang isinya mengajarkan kebaikan kepada masyarakat di tempat itu zaman dahulu kala sedangkan dari agama Hindu merupakan surat perjanjian yang berbentuk undang-undang untuk dihayati yang bersumber dari buku kepercayaan mereka. Konon dari cerita legenda yang berkembang sampai kini dan masih dipercaya masyarakat setempat pada zaman dahulu kala di mana pagi masih berkabut. Langit terlihat remang-remang berselimut awan kelabu. Burung-burung mulai berkicau menyambut sang surya di ufuk timur. Saat itu terlihat ibu-ibu dan gadis-gadis tanggung pergi ke tepian.

Mereka hendak mencuci atau sekedar mengambil air.
Dari kejauhan terlihat sekelompok orang-orang berjalan menyusuri jalan setapak. Bila diperhatikan gaya penampilan dan bahasanya mereka adalah orang-orang asing. Mereka terlihat berjalan kepayahan sebab sudah sangat jauh yang ditempuhnya. Mereka seolah-olah ketakutan. Mereka ada yang membawa barang miliknya, kayaknya seperti orang hendak mengungsi. Orang-orang bertanya-tanya tentang orang yang belum dikenal mereka. Sekelompok orang tadi mengenalkan dirinya mereka berasal dari negeri India Selatan. Datang ke sini untuk menyelamatkan diri. Sebab negeri mereka dalam bahaya karena diserang bangsa Aria. Mereka berharap dapat menginap di daerah sini yakni Mandailing. Orang kampung menyetujuinya sebab orang dalam kesusahan harus ditolong. Sekelompok orang tadi senang sekali sebab mereka juga menikmati sungai Barumun yang jernih dan bersih. Rupanya diantara mereka ada yang menemukan emas sewaktu bermain pasir di tepian. Benda itu berwarna kuning berkilau. Kalau begitu sungai ini banyak emasnya. Sebab harganya sangat tinggi.

Dengan ditemukanya emas tadi maka beramai-ramai mereka memulai mendulang emas. Mereka saling menyelusuri tepian sungai Batang Gadis. Ternyata mereka berhasil menemukan emas lagi. Tepian sungai yang semula sunyi itu makin hari bertambah ramai. Mereka menyelam ke sungai mencari barang berharga. Mendulang emas sebagai mata pencaharian. Makin hari bukan saja warga pengungsi, warga setempat juga turun mendulang emas. Bahkan orang-orang dari Minangkabau turut bagian. Mereka tidak mau ketinggalan untuk memperoleh emas murni yang sangat berharga itu. Terutama sekali para ibu-ibu yang di sana disebut mande. Dengan keadaan yang demikian menyebabkan tepian sungai Batang Gadis banyak mendirikan pondok-pondok. Sebab mereka terlalu jauh untuk ke kampungnya. Dari hari ke hari tepian sungai itu banyak berdiri rumah-rumah. Kebanyakan penghuninya bermata pencaharian mendulang emas. Sehingga tempat itu semakin terkenal. Dengan demikian tempat inilah asal berdirinya kerajaan kecil di Mandailing. Tepatnya sekitar tepian sungai Batang Gadis. Dengan munculnya kerajaan-kerajaan kecil, wajar menjadi sasaran penyerangan dari kerajaan lain.

Kerajaan Majapahit datang atas perintah Hayam Wuruk. Terjadilah peperangan kecil terjadi. Pasukan raja-raja di tepian Batang Gadis menghalau pasukan Majapahit. Mereka sama sama kuat. Bagaimanapun kecilnya peperangan, kerugian di pihak rakyat pasti ada. Mereka berhamburan meninggalkan rumah mereka. Untuk menyelamatkan diri, bermukim di tempat yang aman. Orang-orang Munda sebagai pengungsi tidak terhindar dari gangguan ini. Mereka turut pindah ke tempat lain. Saat itu penduduk asli mereka kehilangan sajabat karir sebab selama ini mereka sering mendulang emas bersama-sama. Dari kisah hilangnya orang-orang Munda ini, seolah-olah mereka kehilangan sehingga mereka menyebut Munda Hilang. Dan dari tahun ke tahun kata-kata Munda. Hilang menjadi Mandailing.



MARGA ITU APA???.................


Perkataan ìmargaî atau clan itu asalnya dari bahasa Sanskrit, varga iaitu warna. M

arga itu bermakna ìkelompok atau puak orang yang berasal dari satu keturunan.î (1)
Sehingga kini cuma beberapa kerat sahaja orang Mandailing Malaysia yang memakai nama marga mereka seperti amalan orang Arab memakai nama suku dan orang Tionghua memakai nama seh mereka.

Antara mereka yang memakai nama marga ialah Prof. Madya Haji Muhammad Bukhari Lubis, seorang pensyarah dan penulis yang banyak menghasilkan tulisan-tulisan mengenai tasawwuf. Barangkali kepada pendengar radio dan penonton tv, nama Mandailing yang paling terkenal ialah penyanyi dan juruhebah, Rubiah Lubis.

Di kalangan arwah-arwah orang Mandailing Semenanjung yang memakai marga mereka ialah penulis Abdullah Musa Lubis dan tokoh agama, Abdullah Abbas Nasution. Karangan Abdullah Musa Lubis termasuklah Sejarah Perak Dahulu dan Sekarang, Kesah Raja Marong Maha Wangsa, Hikayat Musang Berjanggut dan Hikayat Raja Pasai. Karya-karyanya diterbitkan sama ada oleh Pustaka Antara atau Sinaran Brothers. (2)

Sementara buku-buku Abdullah Abbas Nasution pula, antara lain ialah Quran Daawah Islamiah, Hukum Haram Riba Tidak Ada Syak Wa Sangka dan Al-Tarikh Majmu Sejarah Islam dalam 32 jilid. Ada karangannya yang diterbitkannya sendiri atas nama Pustaka Nasution.(3)

Ramai lagi tokoh Mandailing yang langsung tidak memakai marga mereka seperti ìnasionalis Melayuî dan pendidik yang terkemuka, Aminuddin Baki (1926-65), anak Chemor yang bermarga Lubis. (4)

Ada juga orang Mandailing yang mulanya memakai marga mereka tetapi kemudian melucutkan pula seperti Kamaludin Nasution. Sesudah melarikan diri ke Semenanjung pada 1932 dari perisikan penjajah Belanda, Kamaludin mengambil nama Abdurrahman Rahim. Dia menjadi penulis ruangan pojok Utusan Melayu pada 1961-1971. (5)

Sekilas pandang lebih ramai orang Mandailing bermarga Lubis memakai marga mereka berbanding dengan orang Mandailing yang bermarga lain di Malaysia. Ini berbeda dengan di Indonesia, di mana kebanyakan orang Mandailing memakai marga mereka dan pemuka-pemuka Mandailing seperti Mochtar Lubis dan Jeneral Harith Nasution telah memasyurkan nama marga masing-masing di pentas dunia.

Kurangnya orang Mandailing di Malaysia memakai marga mereka ialah kerana ramai yang tidak tahu apa itu marga. ìKadangkala marga hanya membawa maksud saudara dalam pengertian yang umum. Perkataan-perkataan lain yang digunakan untuk menggantikan marga ialah bangsa dan puak,î kata seorang pengkaji masyarakat Mandailing Malaysia. Malah istilah ìsukuî Minangkabau digunakan untuk marga. (6)

ìJusteru itu, ada orang Mandailing di Malaysia yang mengatakan bahawa marga, suku, salasilah tidak berguna di Malaysia tetapi boleh digunakan di Sumatra. Ini adalah sikap double standard orang yang dwi-budaya (mengaku Melayu dan juga Mandailing).î

Sekiranya orang Mandailing Malaysia tidak memakai nama marga masing-masing, keturunan yang akan datang akan lupa asal-usul mereka. Maka, kita carilah marga masing-masing, susunlah salasilah dan kenal-pasti huta (kampung halaman) nenek moyang kita di Mandailing.

Sehubungan itu, selidikilah perihal Bapa atau nenek moyang kita yang merantau dan seterusnya menetap di Semenanjung. Nescaya kita akan menemui cerita-cerita yang menarik dan penuh erti mengenai penghijrahan mereka ke Semenanjung.

Penulis Basyral Hamidy Harahap telah merumuskan bahawa mereka yang merantau ke mari memiliki sifat-sifat ìkeberanian, ilmu agama, elmu hadatuon (ilmu pendukunan) dan semangat kemajuan.î (7)

Umumnya, nenek moyang kita merantau ke Semenanjung kerana Perang Padri (1816-33), kerana hendak menuntut ilmu agama, berniaga, membuka huta harajoan (beraja) yang baru, membawa diri kerana perselisihan faham di kalangan ahli-ahli keluarga atau menghindarkan penjajahan Belanda.

Seperti kebanyakan masyarakat di dunia, masyarakat Mandailing adalah patrilineal, iaitu mengikut nasab atau keturunan sebelah Bapa. Oleh itu, hanya anak lelaki sahaja yang menyambung marga Bapanya.

Nama marga atau clan name orang-orang Mandailing, lelaki mahupun perempuan, datang dari Bapa mereka. Dalam pada itu, anak perempuan yang berkahwin tetap mengekalkan nama marga Bapanya. Dia tidak memakai marga suaminya seperti perempuan Barat yang mengambil surname (nama keluarga) suami sesudah berkahwin. (8)

Seperti orang Arab dan Tionghua, orang Mandailing mempunyai pengetahuan mengenai salasilah mereka sampai beberapa keturunan sekaligus riwayat nenek moyang mereka. Pada mulanya salasilah sesuatu marga diriwayatkan turun-temurun secara lisan (tambo atau terombo) kemudian ianya diperturunkan secara bertulis.

Menurut Abdoellah Loebis yang menulis mengenai asal-usul orang Mandailing dalam majalah Mandailing yang diterbitkan di Medan pada awal kurun ke-20: ìYang masih ada memegang tambo turun-turunannya, iaitu marga Lubis dan Nasution, sebagaimana yang sudah dikarang oleh Almarhum Raja Mulya bekas Kuriahoofd (daerah) Aek (Sungai) Nangali…î (9) Ini tidak bermakna marga-marga Mandailing yang lain tidak memelihara salasilah mereka.

Biasanya di dalam sesebuah kampung di Mandailing terdapat dua atau tiga marga utama dan marga-marga ini saling kahwin mengahwini. Adat Mandailing melarang perkahwinan sesama marga, misalnya Lubis dengan Lubis, dan pasangan yang melanggar aturan ini akan dihukum.

Marga Lubis ramai menghuni Mandailing Julu (Hulu) manakala marga Nasution dominant di Mandailing Godang (Besar). Penelitian salasilah marga Lubis menunjukkan bahawa marga itu mula menetap di Mandailing Julu pada kurun ke-16. (10)

Dahulu kala, orang Mandailing yang merantau ke Minangkabau, Sumatra timur atau Semenanjung, apabila mereka bertemu satu sama lain, pertama-tama mereka ìsorehî atau bertanya kampung asal dan marga masing-masing. Dengan cara itu, mereka sudah tahu siapa orang itu dan apa gerangannya.

Pada awal kurun ke-20, ramai orang Mandailing dari Tapanuli Selatan yang sudah tinggal beberapa keturunan di Sumatra timur tidak memakai marga mereka kerana mereka bernaung di bawah kerajaan Melayu yang disokong oleh penjajah Belanda. Begitulah juga halnya di Malaysia.

Tetapi selepas pendudukan Jepun, revolusi sosial meletus di Sumatra timur menentang kerajaan Melayu, dan orang-orang Mandailing pun mula menekankan identiti budaya mereka sendiri. Revolusi yang sama tidak berlaku di Semenanjung.

Dr. Ariffin Omar dalam bukunya Bangsa Melayu, berkata bahawa orang Mandailing di Sumatra timur mula memakai nama marga mereka secara meluas sebagai menolak budaya, identiti dan kerajaan Melayu, dan serentak itu menemui semula rupa budaya Mandailing mereka.

Seperti kata Arif Lubis, ketua pengarang akhbar Soeloeh Merdeka dan Mimbar Umum pada zaman revolusi sosial itu, sekiranya seseorang itu boleh ìmasuk Melayuî mereka juga boleh ìkeluar Melayuî. (11)

Sejarah menunjukkan bahawa identiti suku kaum bertukar wajah dengan perpindahan, perkahwinan, penjajahan dan naungan politik. Bagaimanapun arus kebangunan etnik yang melanda dunia hari ini telah menghidupkan kembali budaya kaum, terutamanya di kalangan kaum pendatang dan minoriti.

Nota Kaki
1. Edward McKinnon, Vocabulary: Karo Words of Sanskritic and Tamil Origin, tidak diterbitkan. T. Iskandar, Kamus Dewan, 1970.
2. Katalog Koleksi Melayu, UKM, 1990.
3. Syarahan Haji Abdullah Abbas Nasution, tidak bertarikh.
4. Temubual dengan Ustadh/Cikgu Dahlan Harun (Lubis) di Kampong Batu Sembilan, Chemor, Perak.
5. Basyral Hamidy Harahap, Sibulus-bulus, Sirumbuk-rumbuk, 1976.
6. Donald Tugby, Cultural Change and Identity: Mandailing Immigrants in West Malaysia, University of Queensland Press, 1977.
7. Basyral Hamidy Harahap dan Hotman M. Siahaan, Orientasi Nilai-Nilai Budaya Batak. Jakarta, 1987.
8. N. Siahaan, Sedjarah Kebudajaan Batak, Medan, 1964.
9. Abdoellah Loebis, Riwajat Mandailing, dipetik dari Mangaraja Ihoetan, Riwajat Tanah Wakaf Bangsa Mandailing di Soengai Mati, Medan, 1926.
10. Lance Castles, Statelessness and Stateforming Tendencies among the Batak before Colonial Rule. Anthony Reid and Lance Castles (editors), Pre-Colonial State Systems in Southeast Asia, Monographs of MBRAS, Kuala Lumpur, 1975.
11. Ariffin Omar, Bangsa Melayu Malay, Concepts of Democracy and Community 1945-1950, Oxford University Press, 1993.

Marga-Marga Mandailing
Menurut Abdoellah Loebis, marga-marga di Mandailing Julu dan Pakantan adalah seperti berikut: Lubis (yang terbahagi kepada Lubis Huta Nopan dan Lubis Singa Soro), Nasution, Parinduri, Batu Bara, Matondang, Daulay, Nai Monte, Hasibuan, Pulungan.

Marga-marga di Mandailing Godang pula adalah: Nasution yang terbahagi kepada Nasution Panyabungan, Tambangan, Borotan, Lantat, Jior, Tonga, Dolok, Maga, Pidoli, dan lain-lain.

Lubis, Hasibuan, Harahap, Batu Bara, Matondang (keturunan Hasibuan), Rangkuti, Mardia, Parinduri, Batu na Bolon, Pulungan, Rambe, Mangintir, Nai Monte, Panggabean, Tangga Ambeng dan Margara. (Rangkuti, Mardia dan Parinduri asalnya satu marga.)

Menurut Basyral Hamidy Harahap dan Hotman M. Siahaan, di Angkola dan Sipirok terdapat marga-marga Pulungan, Baumi, Harahap, Siregar, Dalimunte dan Daulay. Juga terdapat marga-marga Harahap, Siregar, Hasibuan, Daulay, Dalimunte, Pulungan, Nasution dan Lubis di Padang Lawas.

1 komentar:

  1. Gambling in Las Vegas: Mapyro
    Find the best casinos 문경 출장마사지 in 화성 출장마사지 Las Vegas. Mapyro is the leading 태백 출장안마 provider of online slots, video poker and other gaming software to a 전라북도 출장안마 wide 영천 출장마사지 range of

    BalasHapus